PENDIDIKAN ANAK DALAM SUDUT PANDANG ISLAM

Pendidikan diambil dari kata dasar ‘didik’, yang didalamnya terdapat arti yang luas yaitu; transformasi intelektual, transformasi nilai-nilai moral dan kespiritualitasan. Mendidik tidak sama dengan mengajar. Mendidik lebih luas, terus menerus dan didalamnya juga terdapat proses mengajar. Mengajar hanya sebuah transfer ilmu dan pengetahuan dari seorang pengajar dan yang belajar. Sedangkan mendidik lebih memerlukan keteladanan dari pendidik, contoh nyata, serta pengarahan kepada anak didik yang berlangsung kontinyu dan selamanya. Jadi mendidik lebih berorientasi pada proses, bukan hasil. Pendidik yang utama ialah seorang ibu, lalu ayah, lalu lingkungan keluarga, dan sekolah. Banyak sekali terdapat para pengajar, namun sangat sedikit seorang pendidik.

Tanggung Jawab Pendidikan pada Anak

Pendidikan pada anak merupakan tanggung jawab utama kedua orang tua, baru agen pendidik yang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

” Setiap bayi yang lahir memiliki fitrah ( tauhid ), maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” ( HR. Bukhori dan Muslim ).

Kesadaran bahwa tugas utama mencerdaskan seorang anak adalah tugas orang tua diharapkan dapat memberikan pengaruh positif dalam pembentukan tanggung jawab dan pengkondisian lingkungan keluarga untuk mewujudkan anak-anak yang cerdas secara intelektual, mental dan spiritual.

Sejak Kapan Pendidikan Anak Bermula?

Dalam terminologi psikologi perkembangan, pendidikan anak sudah dimulai pada masa anak di dalam kandungan seorang ibu, sejak janin tercipta. Pendidikan anka pada masa kandungan yaitu dengan cara, menstabilkan kondisi emosional ibu, memberikan gizi yang baik, membawa janin bersama dengan ibu ke dalam situasi yang baik, menenangkan dan kondusif, mendapatkan dukungan dan motivasi dari suami, serta mendapatkan jaminan perlindungan yang baik dari keluarga besar dan lingkungan sosialnya. Dalam beberapa penelitian salah satu cara mendidik anak bisa melalui pendengaran musik klasik pada ibu dan janin, hal ini dipercaya bisa menambah kecerdasan pada anak.

Namun lebih dalam dari itu, dalam Islam, pendidkan seorang anak dimulai jauh dari sebelum janin tercipta. Menurut Suharsono, dalam bukunya “Mencerdaskan Anak”, pendidikan anak dalam Islam dimulai dari beberapa tahap, yaitu:

1. Masa Pranikah
Pendidikan anak pada masa ini, disebut sebagai masa persiapan. Seorang calon ayah dan calon ibu diharapkan sudah mempersiapkan seorang anak yang berpotensi dengan cara pembinaan kesadaran untuk membina sebuah keluarga yang sakinah, mawadah warohmah. Cara ini bermula ketika seorang muslim atau muslimah mulai mencari calon pasangan hidupnya dengan bersandar pada 4 kriteria yang diberikan oleh Rasulullah, yaitu:
“Seseorang dipilih karena 4 hal, kecantikannya, keturunannya, kekayaannya dan agamanya, maka pilihlah karena agama, maka akan selamat hidupmu”.
Standar agama, jelas dinomersatukan dalam Islam mendahului standar nafsu manusia, dengan harapan anak yang lahir kemudian akan membawa kepada fitrahnya, yaitu ketauhidan yang murni terhadap Allah. Begitupula proses ketika pembinaan pranikah pada masa pengenalan pasangan (ta’aruf) hendaknya berdasarkan syariah agama.
2. Proses Pernikahan
Pernikahan yang baik, adalah pernikahan yang sesuai standar agama, dimana rukun2 nikahnya tercapai, walimah (resepsi) dilaksanakan dengan sederhana dan khidmat, izin dan doa restu dari sanak saudara dan kerabat, serta legal secara hukum negara. Pernikahan yang ditutupi, tidak syah, dan bahkan hubungan tanpa pernikahan akan membawa efek buruk bagi kedua orang tua nantinya, dan juga calon anaknya. Penelitian membuktikan bahwa anak yang lahir diluar pernikahan yang syah mengalami ketidakstabilan mental dan emosional. Jika hal ini terjadi, maka harapan untuk mewujudkan anak yang cerdas sangat kecil.
3. Proses Pembuahan ( intercouse )
Proses pembuahan antara kedua orang tua sangat dipentingkan dalam Islam. Ada tata cara khusus dan doa2 yang dipanjatkan ketika kedua orang tua saling berhubungan. Hal ini dikarenakan proses pembuahan adalah proses cikal bakal janin yang sesungguhnya. Jika terjadi penyimpangan maka dikhawatirkan anak akan mengalami defisiensi baik secara mental, fisik, psikis dan bahkan mungkin spiritual nantinya.
4. Masa mengandung.
Pada masa ini, seorang ibu secara psikologis sedang dalam kebimbangan, dan kecemasan. Maka lingkungan yang kondusif secara mental dan spiritual amat dibutuhkan. Janin juga memerlukan gizi yang seimbang, untuk itu kesadaran akan nilai kesehatan dan kebersohan pada orang tua menjadi penting. Kehadiran dan dukungan dari calon ayah, serta keluarga bisa membantu ibu dalam menengaknan dirinya. Anak yang baik dalam masa kandungan berpotensi juga menjadi optimal dalam hidupnya kelak.
5. Masa kelahiran dan pengasuhan
Pada masa bayi lahir dalam Islam disunnahkan untuk, diadzankan (atau iqomah) oleh sang ayah. Dalam hadits lain di tahnik (memberikan madu/kurma pada mulut atas bayi), lalu di aqiqah pada usia 7 hari, dicukur lalu bersedekah sesuai berat rambutnya, dan disusui sampai usia maksimal 2 tahun. Adzan dan iqomah dimaksudkan agar anak telah terdidik dari sejak lahir dengan penanaman ketauhidan (potensi spiritual), tahnik dan ASI dimaksudkan agar anak mendapat nutrisi (potensi kesehatan, emosional, dan intelektual), aqiqah, cukur rambut dan sedekah dimaksudkan agar anak terbiasa untuk mensyukuri nikmat dan berbagi (potensi kecerdasan sosial). Sedalam inilah ternyata Islam mendidik seorang manusia agar bermanfaat kelak.
Pola Pendidikan yang Baik Untuk Anak
Pala pendidikan seorang anak seharusnya sesuai dengan tahapan perkembangan dan usia anak tersebut. Secara umum, dunia anak adalah bermain. Maka pendidikan pada usia ini tertumpu pada hal itu. Masa kanak-kanak dibagi menjadi 2 tahap, yaitu masa kanak-kanak awal dan akhir. Pada masa kanak-kanak awal ( 3-6 tahun ), seorang anak berpusat pada eksplorasi benar2 yang kongkrit. Imajinasi sangat tinggi, Masa ini juga biasa disebut sebagai “The Golden Ages”, yaitu masa penyerapan informasi terbesar dalam tahap perkembangan manusia ( + 50% informasi terserap ). Pendidikan yang baik pada masa ini adalah pendidikan yang berpola pada permainan, cerita (pembentukan karakter), dan bernyanyi. Anak dibiarkan mengeksplorasi dunia ide, imajinasi dan pengalaman konkrit melalui contoh2 yang nyata, agar segala potensi kecerdasan bisa optimal. Penanaman nilai2 yang positif juga harus dikembangkan dengan cara yang bijak dan metode keteladanan yang baik.
Sedangkan pendidikan pada masa kanak2 akhir ( 6-12 tahun ), mulai dipusatkan pada penanaman nilai2 dan norma-norma melalui keteladanan dengan contoh langsung yang dimulai dari pendidik terlebih dahulu. Seperti kata seorang pelopor psikologi, Carl Gustav Jung yang mengatakan
If there is anything that we wish to change in the child, we should first examine it and see whether it is not something that could better be changed in ourselves”.
Potensi kecerdasan akna mulai terbentuk, dan seyogyanya orang tua diharapkan mengarahkan potensi tersebut akan minat dan bakat anak lebih optimal. Penaman spiritual juga mulai diarahkan pada masa ini. Seperti Rasulullah sudah menganjurkan anak untuk sholat pada usia 7 tahun, jika tidak maka ada “punishment” berupa pukulan ringan pada anak tersebut.
Pola pendidikan ini juga harus ditunjang dengan kematangan, kebijaksanaan dan konsep pendidikan kedua orang tua bagi anaknya, lingkungan keluarga yang mendukung, lingkungan sekolah serta lingkungan sosial yang baik. Semua elemen ini harus berekrjasama untuk membangun kecerdasan seorang anak, baik secara intektual ( IQ ), emosional ( EQ ) dan spiritual ( SQ ).

Pertimbangan Orang Tua dalam Memilih Sebuah Institusi Pendidikan bagi Seorang Anak

Pada saat ini, banyak sekali sekolah2 yang menawarkan konsepnya untuk perkembangan seorang anak. Bagaimana cara memilih sekolah yang baik, berikut beberapa hal utama yang harus dipertimbangkan dalam memilih sebuah institusi pendidikan bagi seorang anak:
1. Konsep pendidikan itu sendiri. Apakah konsep sekolahnya berpusat pada penilaian agama saja (pesantren), atau intelektualitas saja ( konvensional) atau konsep yang menyeimbangakan semua kecerdasan ( Multiple Intelligences ) seperti sekolah2 terpadu, nonkonvensional dan sekolah plus.
2. Sebuah konsep dalam sekolah, dapat dijabarkan dalam sebuah kurikulum. Maka orang tua juga harus melihat kemana arah kurikulum sekolah anaknya itu akan dibawa? Apakah berorientasi pada proses atau sekedar hasil? Apakah kurikulum yang ditawarkan focus pada satu budang atau banya hal? Hal ini bisa dilihat dari profile lulusan2nya yang telah ada.
3. Fasilitas sekolah yang mendukung dan lingkungan belajar yang kondusif, antara lain bisa dilihat dari penyediaan ruang kelas, ruang2 yang ekstra, perbadingan rasioa antar guru dan murid, media pengajaran, dsb.
4. Lokasi yang strategis, biaya yang sesuai dengan kemampuan orang tua
5. Status sekolah, apakah memilih yang yang negri atau swasta? Terakreditasi atau diakui, atau yang lainnya?
Demikianlah, semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: